This website does readability filtering of other pages. All styles, scripts, forms and ads are stripped. If you want your website excluded or have other feedback, use this form.

(PDF) PENGARUH BAHASA JAWA CILACAP DAN BAHASA SUNDA BREBES TERHADAP PENCILAN BAHASA (ENKLAVE) SUNDA DI DESA MADURA KECAMATAN WANAREJA KABUPATEN CILACAP

We use cookies to make interactions with our website easy and meaningful, to better understand the use of our services, and to tailor advertising. For further information, including about cookie settings, please read our Cookie Policy . By continuing to use this site, you consent to the use of cookies.

We value your privacy

We use cookies to offer you a better experience, personalize content, tailor advertising, provide social media features, and better understand the use of our services.

To learn more or modify/prevent the use of cookies, see our Cookie Policy and Privacy Policy.

Download citation Facebook Twitter LinkedIn Reddit Download full-text PDF

PENGARUH BAHASA JAWA CILACAP DAN BAHASA SUNDA BREBES TERHADAP PENCILAN BAHASA (ENKLAVE) SUNDA DI DESA MADURA KECAMATAN WANAREJA KABUPATEN CILACAP

Research (PDF Available) · May 2015 with 897 Reads How we measure 'reads' A 'read' is counted each time someone views a publication summary (such as the title, abstract, and list of authors), clicks on a figure, or views or downloads the full-text. Learn more DOI: 10.13140/RG.2.1.4928.9122 Cite this publication Abstract Enclave is the use of vocabularies that is different from the surrounding villages. The differences can be obtained by the influences of the other vocabularies from the nearest villages. The influences can be in morfological form, fonological or in lexical form. The aim of this research is to show that there are some influences in morfological, fonological and lexical forms in Sundanese language in Madura Village, Wanareja District from Javanese language in Cilacap and Sundanese language in Brebes. This research is library research because to collect the data, I used documents. To analyse the data, I used Padan and Agih Method. The result of this research is that there are some influences happend in Sundanese Language in Cilacap village. The influence in lexicon is from the historical background of the village, while in phonetic, some sound changes are in asimilation, metathesis and anatixis processes. In morphology, the influent process is in reduplication, that are, reduplication and affixation. Thus, the conclusion of this research is Sundanese language in Madura Village, Wanareja District is influenced by languages nearest the village.

Discover the world's research

  • 17+ million members
  • 135+ million publications
  • 700k+ research projects
Join for free
Advertisement Content uploaded by Hetty Catur Ellyawati Author contentAll content in this area was uploaded by Hetty Catur Ellyawati on May 22, 2015 Content may be subject to copyright. Download full-text PDF PENGARUH BAHASA JAWA CILACAP DAN BAHASA SUNDA BREBES TERHADAP PENCILAN BAHASA (ENKLAVE) SUNDA DI DESA MADURA KECAMATAN WANAREJA KABUPATEN CILACAP Hetty Catur Ellyawati [email protected] Universitas Semarang Abstract Enclave is the use of vocabularies that is different from the surrounding villages. The differences can be obtained by the influences of the other vocabularies from the nearest villages. The influences can be in morfological form, fonological or in lexical form. The aim of this research is to show that there are some influences in morfological, fonological and lexical forms in Sundanese language in Madura Village, Wanareja District from Javanese language in Cilacap and Sundanese language in Brebes. This research is library research because to collect the data, I used documents. To analyse the data, I used Padan and Agih Method. The result of this research is that there are some influences happend in Sundanese Language in Cilacap village. The influence in lexicon is from the historical background of the village, while in phonetic, some sound changes are in asimilation, metathesis and anatixis processes. In morphology, the influent process is in reduplication, that are, reduplication and affixation. Thus, the conclusion of this research is Sundanese language in Madura Village, Wanareja District is influenced by languages nearest the village. Keywords: enclave, reduplication, affixation. A. LATAR BELAKANG Cilacap adalah salah satu kabupaten yang masuk wilayah administratif provinsi Jawa Tengah. Daerah ini memiliki luas area 2.142,59 km² dengan kepadatan penduduk sejumlah 767 jiwa/km², terdapat 24 kecamatan yang terbagi dalam 15 desa dan kelurahan. Kabupaten Cilacap sebelah utara berbatasan dengan kabupaten Brebes dan kabupaten Banyumas, di sebelah timur berbatasan dengan kabupaten Banyumas dan kabupaten Kebumen, sebelah selatan berbatasan dengan Samudra Hindia, serta kabupaten Ciamis dan Kota Banjar (Jawa Barat) di sebelah Barat1. Karena letaknya itulah, maka di kabupaten Cilacap terdapat dua bahasa yang dipakai sebagai bahasa komuniasi sehari-hari oleh penduduknya. Dua bahasa tersebut adalah bahasa Sunda dan bahasa Jawa. Bahasa Sunda dipakai oleh penduduk di daerah-daerah terutama di kecamatan-kecamatan yang berbatasan dengan Jawa Barat, seperti Dayeuhluhur, Wanareja, Kedungreja, Patimuan, Majenang, Cimanggu, dan Karangpucung. Hal ini menunjukkan bahwa pada masa lalu wilayah barat daerah ini adalah bagian dari wilayah Sunda. Pencilan bahasa Sunda yang terdapat di daerah Cilacap inilah, terutama daerah Wanareja, yang akan menjadi kajian dalam paper ini. B. METODE PENELITIAN Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode kepustakaan, dimana data diambil dari sumber pustaka yang diterbitkan oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Analisis data menggunakan metode agih dan padan. Metode agih bila alat yang digunakan untuk menganalisis berada di dalam unit analisis, sedangkan metode padan digunakan, bila alat penentunya berada di luar2. 1 https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Cilacap 2 Sudaryanto (1993, 15-16) Alat penentu dalam penelitian ini yang berada di luar bahasa adalah faktor lingkungan sosial yang menglingkupi suatu bahasa, yaitu faktor yang mempengaruhi penggunaan bahasa Sunda di daerah Wanareja sebagai suatu daerah pencilan (enklave) di Cilacap. Sedangkan alat penentu di dalam bahasa adalah, unsur fonetik, maupun morfologi yang ada dalam kata yang digunakan oleh penduduk di desa Madura kecamatan Wanareja. C. TUJUAN PENELITIAN Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengaruh bahasa-bahasa yang ada di sekitar desa Madura kecamatan Wanareja, yaitu bahasa Jawa Cilacap dan bahasa Sunda Brebes, dari aspek leksikon, fonetis dan morfologis D. KAJIAN PUSTAKA ENKLAVE Penelitian tentang enklave bahasa Sunda di daerah berbahasa Jawa pernah dilakukan oleh Nothofer (1977), Tim Fakultas Sastra Unpad Bandung (1982), Lauder (1990), wahya (1992) dan Nani Darheni, Balai Bahasa Bandung (2009). Penelitian yang dilakukan oleh Nani Darheni dari Balai Bahasa Bandung mendeskripsikan enklave di daerah Luwungbata kabupaten Brebes. Diungkapkan bahwa terdapat kantong (enklave) bahasa Sunda di daerah Brebes, tepatnya di desa Luwung bata yang kosakatanya, beberapa diantaranya terpengaruh oleh bahasa Jawa yang ada di daerah Brebes. Kata "enklave" (enclave) berasal dari kata Perancis, lingua franca kosakata bidang diplomasi, yang aslinya berasal dari kata Latin inclavatus (artinya 'terkurung, terkunci')3. Menurut Lauder (1990) enklave adalah penggunaan kosakata yang berbeda-beda dari desa-desa sekitarnya. Di kabupaten Cilacap, yang merupakan daerah yang memiliki dua bahasa yaitu bahasa Sunda dan Jawa, selain desa 3 http://id.wikipedia.org/wiki/Enklave Wanareja, terdapat kantong-kantong bahasa Sunda lain yaitu di desa Dayeuhluhur, Cimanggu, Kedungreja, Patimuan, Majenang, dan Karangpucung. Tetapi, penelitian ini hanya akan fokus pada daerah Wanareja. FONEM Fonem adalah kesatuan bunyi terkecil suatu bahasa yang berfungsi membedakan makna (Muslich, 2008: 77-84). Terdapat beberapa hal yang bisa menjadi dasar analisis fonem, antara lain yaitu: 1. Bunyi-bunyi suatu bahasa cenderung dipengaruhi oleh lingkungannya. Misalnya bunyi /nt/ pada ‘tinta’ dan /nd/ pada ‘tunda.’ 2. Sistem bunyi suatu bahasa berkecenderungan bersifat simetris. Misalnya selain ada bunyi hambat bilabial /p/ dan /b/ juga ada bunyi nasal bilabial /m/. 3. Bunyi-bunyi suatu bahasa cenderung berfluktuasi Misalnya kata ‘papaya’ diucapkan /pepaya/, ‘semakin’ diucapkan /semangkin/, ‘sekadar’ diucapkan /sekedar/. 4. Bunyi-bunyi yang mempunyai kesamaan fonetis digolongkan tidak berkontras apabila berdistribusi komplementer dan atau bervariasi bebas. Misalnya bunyi /k/ dan /?/ adalah bunyi yang mempunyai kesamaan fonetis. Bunyi /k/ tidak pernah menduduki posisi bunyi /?/ demikian juga sebaliknya. 5. Bunyi-bunyi yang mempunyai kesamaan fonetis digolongkan ke dalam fonem yang berbeda apabila berkontras dalam lingkungan yang sama atau mirip. Misalnya bunyi /dari/ dan /tari/, /paku/ dan /baku/ PROSEDUR ANALSIS FONEM Terdapat beberapa tahapan dalam menganalisis fonem menurut Muslich (2008: 84-91) yaitu: 2. Mencatat korpus data setepat mungkin dalam transkripsi fonetis 3. Mencatat bunyi yang ada dalam korpus data ke dalam peta bunyi 4. Memasangkan bunyi-bunyi yang dicurigai karena mempunyai kesamaan fonetis 5. Mencatat bunyi-bunyi selebihnya karena tidak mempunyai kesamaan fonetis 6. Mencatat bunyi-bunyi yang terdistribusi komplementer 7. Mencatat bunyi-bunyi yang bervariasi bebas 8. Mencatat bunyi-bunyi yang berkontas dalam lingkungan yang sama (identis) 9. Mencatat bunyi-bunyi yang kontras dalam lingkungan yang mirip (analogis) 10. Mencatat bunyi-bunyi yang berubah karena lingkungan 11. Mencatat bunyi-bunyi dalam inventori fonetis dan fonemis, condong menyebar secara simetris 12. Mencatat bunyi-bunyi yang berfluktuasi 13. Mencatat bunyi-bunyi selebihnya sebagai fonem tersendiri PROSES REDUPLIKASI Reduplikasi merupakan suatu proses dan hasil pengulangan suatu bahasa sebagai alat fonologis atau gramatikal (Kridalaksana, 1982: 13-144). Reduplikasi menurut Zamzami (1993) dapat dikelompokkan menjadi reduplikasi morfemik, fonologi dan siktaktik. Reduplikasi morfologis (morfemimis) merupakan reduplikasi yang berkaitan dengan bidang morfologi, yang hasilnya dapat berupa kata atau kata kompleks. Reduplikasi ini banyak dijumpai pada sebagian besar kata di dunia. Proses-proses yang lazim ada pada jenis reduplikasi ini adalah proses afiksasi, reduplikasi, suplesi,, modifikasi, subtraksi, komposisi, derivasi zero, derivasi balik, suprafiks (Mattew, 1978). Reduplikasi fonologis merupakan peristiwa reduplikasi yang dapat berupa pengulangan suku, atau suku-suku kata sebagai bagian kata. Contoh reduplikasi fonologis dalam bahasa Indonesia antara lain susu, pipi, sisi, kuku, kura-kura, kupu-kupu, biri-biri, betutu, cecunguk. Reduplikasi sintaksis merupakan jenis reduplikasi gramatikal yang input- nya berupa leksem (atau disebut juga morfem), dan output-nya berupa klausa. Jadi reduplikasi ini menghasilkan klausa bukan lagi kata. Klausa di sini bukan dalam arti bentuk, melainkan dalam semantik, misalnya Tua-tua masih mampu naik sepeda orang itu. Kata Tua-tua berarti meskipun sudah tua atau walaupun sudah tua. KRITERIA PEMERIAN REDUPLIKASI Menurut Zamzami (1993) terdapat beberapa kriteria atau tolak ukur dalam pemerian reduplikasi berdasarkan bentuknya. Kriteria-kriteria tersebut adalah: (a) Arah perulangan (b) bentuk perulangan (c) bentuk dasar. a. Arah Perulangan Reduplikasi dapat dikelompokkan menggunakan arah perulangan bentuk, artinya apakah letak bentuk ulangnya berada sesudah bentuk dasar (arah belakang) atau arah kanan atau dapat digunakan progresif. Contoh reduplikasi progresif: berganti-ganti, meniru-niru, menari-nari, berpikir- pikir. Contoh reduplikasi bentuk ulang berada sebelum atau mendahului: tarik- menarik, tolong-menolong, tumbuh-tumbuhan, iring-iringan. b. Bentuk Perulangan Berdasarkan bentuk perulangannya, reduplikasi dikelompokkan menjadi: reduplikasi utuh, reduplikasi sebagian atau parsal dan reduplikasi variasi. Dikatakan reduplikasi utuh jika bentuk perulangannya sama dengan bentuk dasarnya, misalnya orang-orang, pelaki-pelaku, sehat-sehat. Jika reduplikasi hanya dilakukan sebagian dari bentuk dasarnya, maka contohnya adalah: meniru-niru, tarik-menarik, tumbuh-tumbuhan. Sedangkan jika perulangannya mengalami variasi perubahan fonem (vokal dan atau konsonan) dari bentuk dasarnya, maka disebut sebagai reduplikasi variasi, misalnya bolak- balik, ramah-tamah, warna-warni, serba-serbi. c. Bentuk Dasar Yang dimaksud dengan bentuk dasar adalah bentuk apapun yang menjadi dasar pembentukan suatu bentuk lingual yang lebih besar melalui proses morfologis. Terdapat dua jenis reduplikasi pada kategori ini yaitu: reduplikasi bentuk dasar asal, contohnya pipa-pipa, balik-balik, warna-warni dan, reduplikasi bentuk dasar turunan atau jadian, contohnya pukul-memukul, memukul-mukul, berjalan-jalan, minum-minuman. E. PEMBAHASAN DESKRIPSI ENKLAVE BAHASA SUNDA DI DESA MADURA Pencilan bahasa (enklave) di desa Madura kecamatan Wanareja meliputi aspek (a) leksikon, (b) fonologis, dan (c) morfologis. Berikut adalah data leksikon bahasa desa Madura: No. BSMW4BJC5BSB6Makna 1. Taktak Pundha? Taktak bahu 2. Bitis kεmpol bitIs betis 3. Biwir lambe biwir bibir 4. Bulu mata Id pəBulu mata Bulu mata 5. Kumis gɔdhεg kumis cambang 6. Narigo dadha harigu dada 7. dagU? jaŋgUt Gadɔ? Dagu 8. Taraŋ bathuk Taraŋ dahi 9. Carεhan Bam Carεham geraham 10. Tariŋ Untu gugusu Gigi seri 11. Sihuŋ Suwul Huntu susun gigi yang bertumpuk 12. Taŋgar Mrɔŋɔl Tɔŋgar Gigi yang menonjol 13. Gugusi Gusi gugusi gusi 14. Jεŋgɔt Jaŋgut Jaŋgɔt janggut 4 Bahasa Sunda Madura Wanareja (BSMW), Cilacap. Sumber Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1995 5 Bahasa Jawa Adipala Cilacap (BJC) Sumber Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1995 6 Bahasa Sunda Brebes (BSB). Sumber Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1995 15. ramɔ? J ntiəhk Ramɔjari 16. Jariji Jari manis ciŋgIr Jari manis 17. CiŋgIr ntəhik ciŋgIr kelingking 18. tikɔrɔk rə ɔŋkɔŋan tikɔrɔ? kerongkongan 19. Kεlεk kεlεk Kεlεk ketiak 20. l ŋ nə ə l ŋ nə ə l ŋ nə ə lengan 21. ɔmpɔŋɔmpɔŋɔmpɔŋ ompong 22. ɔtak Ut kəPolo otak 23. Piŋpiŋ pupu Piŋpiŋ paha 24. Bokoŋ bokoŋ bobokoŋ pantat 25. Paru-paru Paru-paru Paru-paru Paru-paru 26. Pipilis t mpiliŋanəPipilis pelipis 27. Iga? Iga Tulaŋ tɔŋgoŋ rusuk 28. Siku sikut Siku siku 29. Kaka? Kaka Kakaŋ abang 30. Uwa uwa uwa? Abangnya ayah/ibu 31. Adi? Adhi? Mama? Adik 32. Mamaŋ paman Mama? Adik laki2 ayah/ibu 33. Bibi? Bibi Ibu Adik prmn ayah/ibu 34. Incu? Putu Incu cucu 35. Tεtεh, c cə ə Mb kayuəTεtεh Kakak perempuan 36. cɔkɔt Jikut ñɔkɔt ambil 37. Ŋasuh mə ɔŋ ŋasuh asuh 38. Ayun Diyun ŋayun ayun 39. mɔcɔmɔcɔmaca baca 40. hudhaŋ taŋi hudaŋ bangun 41. mic nəŋisiŋ ŋisiŋ berak 42. Ais mbanəAis bopong 43. Rayu ŋrayu Ŋolo? Bujuk 44. Ŋadiktε awaŋan mancoŋak congak 45. Gantuŋ gantuŋ gantuŋ gantung 46. Ŋituŋ milaŋ milaŋ hitung 47. Lεtak Dilat Ŋalεtak jilat 48. l kə ə ŋ l kə ə l kə ə telan 49. Εrεk ar pəεrεk akan 50. Tadi Mawu tadi tadi 51. Baŋkεkan Baŋkεkan birIt pinggul Realisasi vokal pada bahasa Sunda Madura adalah: Vokal Depan Tengah Belakang Tertutup I u Tengah EəO Hampir Terbuka ( )ɛ( )ɔ Terbuka a Dan di bawah ini adalah tabel konsonan. Konsonan Bibir Gigi Langit2 keras Langit2 lunak Celah suara Sengau m N ɲŋ Letup p b t d c k g ʔ Desis S H Getar/Sisi l r Hampiran w J a) Aspek lelsikon Dari 51 entri bahasa Sunda Madura Wanareja tersebut, terlihat bahwa terdapat pengaruh bahasa Jawa Cilacap dan bahasa Sunda Brebes pada bentuk leksikal bahasa Sunda Madura Wanareja. Pengaruh-pengaruh tersebut terlihat pada kata-kata berikut ini: 1). Pengaruh bahasa Jawa Cilacap terhadap Bahasa Sunda Madura No. BSMW BJC Makna 1. Kεlεk Kεlεk Ketiak 2. l ŋ nə ə l ŋ nə ə Lengan 3. ɔmpɔŋ ɔmpɔŋ ompong 4. Bokoŋ bokoŋ Pantat 5. Uwa Uwa Abangnya ayah/ibu 6. MɔcɔmɔcɔBaca 7. Gantuŋ gantuŋ gantung 8. Baŋkεkan baŋkεkan pinggul 2) Pengaruh bahasa Sunda Brebes terhadap Bahasa Sunda Madura No. BSMW BSB Makna 1. Taktak taktak Bahu 2. Biwir Biwir Bibir 3. Bulu mata Bulu mata Bulu mata 4. Kumis kumis cambang 5. Taraŋ Taraŋ Dahi 6. Gugusi gugusi Gusi 7. ciŋgIr ciŋgIr kelingking 8. Piŋpiŋ Piŋpiŋ paha 9. Pipilis Pipilis pelipis 10. Siku Siku Siku 11. Tεtεh, c cə ə Tεtεh Kakak perempuan 12. Ŋasuh Ŋasuh Asuh 13. Ais Ais bopong 14. Gantuŋ gantuŋ gantung 15. l kə ə l kə ə telan 16. Εrεk εrεk akan 17. Tadi Tadi Tadi Banyak terdapat pengaruh bahasa Sunda Brebes terhadap bahasa Sunda Madura Wanareja, hal ini karena kedua daerah tersebut, yaitu Brebes dan Cilacap, pernah menjadi daerah yang dilintasi oleh Bujangga Manik7. b) Aspek fonetis Pada aspek fonetis, pengaruh bahasa Jawa Cilacap terlihat pada kata-kata sebagai berikut: 1). Variasi fonetis bahasa Sunda Madura No. BSMW BJC Makna 1. Iga? Iga rusuk 2. Kaka? Kaka abang 3. Adi? Adhi? Adik 4. Bibi? Bibi Adik prmn ayah/ibu 5. Uwa Uwa Abangnya ayah/ibu 6. ɔtak Ut kəotak Terjadi proses anaptiksis pada kata yang berakhiran suku terbuka /a/ dan tertutup /i/ pada leksikon bahasa Jawa Cilacap, misalnya pada kata ‘iga’, ‘kaka’, ‘adi’, dan ‘bibi’, yaitu proses penambahan bunyi dengan jalan menambahkan bunyi tertentu pada akhir kata. 7 Bujangga Manik adalah Prabu Pakuan, seorang raja dari kerajaan Sunda, Pakuan Pajajaran yang memilih meninggalkan kerajaannya untuk menjadi resi dan melakukan perjalanan, salah satu daerah yang dilintasinya adalah kali Ci Pamali (Brebes). Dari deret leksikal di atas, penambahan bunyi yang terjadi adalah penambahan glotal stop /?/. sehingga leksikonnya berubah menjadi: - Iga? - Kaka? - Bibi? Terdapat pengecualian proses anaptiksis pada leksikon ‘uwa’. Meskipun kata tersebut berakhiran suku kata terbuka, tetapi tidak mengalami penambahan bunyi glotal stop /?/. hal ini karena kata tersebut diadopsi bahasa Sunda Madura sama persis dengan kata dalam bahasa Jawa Brebesnya yaitu ‘uwa’ Terjadi proses asimilasi pada leksikon ‘Ut k’ menjadi leksikon ‘ə ɔtak’, yaitu perubahan bunyi yang tidak sama menjadi bunyi yang sama atau hampir sama. Bunyi vokal tertutup belakang /u/ pada kata ‘Ut k’ berubah menjadiə bunyi vokal hampir terbuka belakang /ɔ/, keduanya berposisi di belakang dan merupakan suspiciour pair, karena letaknya yang sama pada bagian lidah yang naik ketika bunyi tersebut diucapkan, yaitu bagian belakang lidah. Demikian juga pada vokal tengah / / berubah menjadi vokal terbukaə tengah /a/, kedua vokal ini hampir sama karena sama-sama berposisi di tengah, oleh karena letaknya itu maka bunyi /a/ dan / / merupakan əsuspicious pair dan dapat berasimilasi satu sama lain. 2). Variasi fonetis bahasa Sunda Madura No. BSMW BSB Makna 1. Narigo Harigu dada 2. dagU? Gadɔ? Dagu 3. Carεhan Carεham geraham 4. Jεŋgɔt Jaŋgɔt janggut 5. ramɔ? Ramɔjari 6. tikɔrɔtikɔrɔ? kerongkongan 7. Incu? Incu cucu Variasi fonetis yang terjadi pada bahasa Sunda Brebes terhadap bahasa Sunda Madura adalah variasi asimilasi yaitu variasi karena proses perubahan bunyi dari bunyi yang tidak sama menjadi bunyi yang sama atau hampir sama. Variasi ini terbagi dalam dua kelompok yaitu, kelompok vokal dan kelompok konsonan. Pada kelompok vokal terlihat pada fonem-fonem berikut: - /o/ dan /u/ pada leksikon ‘narigo’ dan ‘harigu’ - /a/ dan / /ɔ pada leksikon ‘dagU?’ dan ‘Gadɔ?’ - /U/ dan /a/ pada leksikon ‘dagU?’ dan ‘Gadɔ?’ - /ε/ dan /a/ pada leksikon ‘Jεŋgɔt’ dan ‘Jaŋgɔt’ Sedangkan variasi pada kelompok konsonan adalah sebagai berikut: - /n/ dan /m/ pada leksikon ‘Carεhan’ dan ‘Carεham’ Pada kelompok vokal, terlihat pasangan bunyi-bunyi: - /o/ dan /u/ /o/ bunyi tengah, belakang /u/ bunyi tertutup, belakang Karena sama-sama merupakan vokal yang terletak dibelakang itulah bunyi /o/ dan /u/ bisa berasimilasi pada leksikon ‘narigo’ dan ‘harigu’ - /a/ dan / /ɔ /a/ dan / / dalam ɔinternational phonetic alphabet dimasukkan dalam kategori rounded atau bunyi terbuka, karena itu bunyi /a/ dan / / dapatɔ berasimilasi pada leksikon ‘dagU?’ dan ‘Gadɔ?’ Variasi bunyi /a/ menjadi / / juga terlihat pada leksikon ɔ ‘Taŋgar’ dan ‘Tɔŋgar’ - /U/ dan /a/ Demikian halnya dengan kedua bunyi ini /u/ dan /a/, pada international phonetic alphabet dimasukkan dalam kategori rounded atau bunyi terbuka, karena itu bunyi /u/ dan /a/ dapat berasimilasi pada leksikon ‘dagU?’ dan ‘Gadɔ?’ - /ε/ dan /a/ /ε/ merupakan bunyi half rounded atau setengah terbuka /a/ merupakan bunyi terbuka, kemiripan tersebut membuat /ε/ dan /a/ dapat berasimilasi pada leksikon ‘Jεŋgɔt’ dan ‘Jaŋgɔt’. Pada kelompok konsonan, terdapat bunyi /n/ dan /m/ pada leksikon ‘Carεhan’ dan ‘Carεham. Kedua bunyi ini /n/ dan /m/ dapat berasimilasi dan saling menggantikan karena keduanya sama-sama merupakan bunyi sengau, walaupun letaknya berbeda, yaitu /n/ adalah dentis atau gigi sedankan /m/ adalah bilabial atau bibir. Variasi yang lain adalah variasi pembalikan urutan bunyi fonemis atau disebut metatesis. Variasi ini terlihat pada leksikon ‘Gadɔ?’ dan ‘dagU?’. Setelah mengalami proses asimilasi pada tataran vokal yaitu pada /a/ dan /U/ serta / / ɔdan /a/ proses selanjutnya adalah proses pembalikan urutan bunyi fonemis. Pada leksikon ‘Gadɔ?’, fonem ‘ga’ berasimilasi dengan bunyi /U/ sehingga menjadi ‘gU’ dan posisinya membalik secara diakronis dari fonem akhir menjadi fonem depan, sedangkan fonem ‘dɔ’ setelah berasimilasi dengan bunyi /a/ posisinya bergeser menjadi fonem kedua, sehingga leksikon ‘Gadɔ?’ menjadi ‘dagU?’. c) Aspek morfologis 1) bahasa Jawa Cilacap terhadap bahasa Sunda Madura No. BSMW BJC Makna 1. Gugusi Gusi Gusi 2. Ayun Diyun Ayun 3. l kə ə ŋ l kə ə Telan Dalam morfologi bahasa jawa, dikenal tiga macam proses morfologis, yaitu: afiksasi (imbuhan), reduplikasi (ulangan) dan komposisi (gabungan). Pada tabel di atas, terdapat tiga leksikon bahasa Sunda Madura yang terpengaruh morfologi bahasa Jawa, yaitu: - proses reduplikasi pada kata ‘gugusi’ - proses afiksasi yaitu prefiks pada kata ‘ayun’ dan ‘ l k’ə ə Proses reduplikasi biasanya terjadi dengan adanya pengulangan suku kata tertentu, biasanya suku kata depan, sehingga membentuk kata baru yang maknanya sama dengan makna kata awalnya. Reduplikasi yang terjadi pada kata ‘gugusi’ adalah, kata ‘gusi’ dalam bahasa Jawa Cilacap, mengalami pengulangan atau reduplikasi suku kata depan yaitu fonem ‘gu’ sehingga menjadi ‘gugusi’ yang artinya sama dengan kata awalnya yaitu ‘gusi’. Sedangkan proses resapan kata ‘Diyun’ dan ‘ŋ l k’ menjadi bahasaə ə Sunda Madura tergolong unik, karena kata tersebut diserap setelah lepas dari proses afiksasi, sehingga hanya kata dasarnya saja yang menjadi leksikal bahasa Sunda Madura. Prosesnya sebagai berikut: - kata ‘ayun’ berasal dari leksikon Jawa ‘diyun, sedangkan kata ‘diyun’ merupakan hasil afiksasi dari prefiks (morfem terikat) ‘di’ dengan kata (morfem bebas) ‘ayun’. Setelah bersama, kedua morfem ini seharusnya membentuk kata ‘diayun’ tetapi bunyi /a/ mengalami peluruhan, sehingga fonemnya menjadi ‘diyun’. - kata ‘ l k’ berasal dari kata ‘ŋ l k’. Sedangkan kata ‘ŋ l k’ berasal dariə ə ə ə ə ə prefiks (nasal) n- + l k. gabungan dua kata ini seharusnya menghasilkanə ə kata n l k, tetapi karena konsonan /n/ berasimilasi dengan vokal / / danə ə ə muncul bunyi /g/ maka terjadi kata ‘ŋ l k’. ə ə 2) bahasa Sunda Brebes terhadap bahasa Sunda Madura No. BSMW BSB Makna 1. Bokoŋ Bobokoŋ Pantat 2. Ayun Ŋayun Ayun 3. Lεtak Ŋalεtak Jilat Seperti halnya pada leksikon Sunda Madura yang dipengaruhi oleh morfologi Jawa, maka leksikon Sunda Madura yang dipengaruhi oleh bahasa Sunda Brebes juga berasal dari proses reduplikasi dan prefiksasi. Leksikon bahasa Sunda Madura yang berasal dari proses reduplikasi dan afiksasi bahasa Sunda Brebes juga hanya mengambil kata dasarnya saja. Dengan demikian, hal ini sama persis dengan apa yang terjadi pada leksikon bahasa Sunda Madura yang berasal dari leksikon bahasa Jawa Cilacap. Pada leksikon bahasa Sunda Brebes terdapat kata ‘bobokoŋ’. Kata ini mempunyai kata dasar ‘bokoŋ’ yang mengalami proses reduplikasi kata depan yaitu fonem ‘bo’. Kata dasar inilah yang kemudian diambil oleh bahasa Sunda Madura untuk menerangkan entitas yang sama. Hal yang sama juga terjadi pada kata ‘ŋalεtak’. Kata ini merupakan hasil afiksasi dari kata ‘lεtak’ dan afiks (N-). Bahasa Sunda Madura juga hanya mengambil kata dasar ‘lεtak’ dari kata ‘ŋalεtak’ untuk mewakili entitas yang sama. F. SIMPULAN Bahasa Sunda Madura sangat terpengaruh oleh bahasa-bahasa yang ada di sekitarnya. Pengaruh itu meliputi aspek leksikal, fonetis dan morfologis. Leksikon bahasa Sunda di desa Madura kecamatan Wanareja yang terletak di kabupaten Cilacap sangat terpengaruh oleh leksikon yang ada di daerah Cilacap dan Brebes. Pengaruh ini terjadi, salah satu faktornya adalah karena masa lalu, seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa kedua daerah yaitu Cilacap dan Brebes pernah menjadi bagian dari wilayah yang dilintasi oleh Bujang Manik. Pengaruh fonetis terlihat pada proses-proses perubahan bunyi yang ada terjadi pada fonemnya yaitu antara lain proses asimilasi, proses metatesis dan proses anatiksis. Dalam aspek morfologi, bahasa Sunda Madura juga berkaitan erat dengan bahasa Jawa Cilacap dan bahasa Sunda Brebes melalui proses reduplikasi dan afiksasi. Pada proses afiksasi, bahasa Sunda Madura selalu mengambil kata dasar dari kata yang mengalami afiksasi sebagai leksikonnya. G. REFERENSI - Darheni, Nani. 2009. Pencilan Bahasa (enklave) Sunda di Desa Luwung Bata Kecamatan Tanjung Kabupaten Brebes (BDB). Jakarta: KOLITA - Lauder, Multamia Retno Mayekti Tawangsih. 1990. Pemetaan dan Distribusi Bahasa-Bahasa di Tangerang. Jakarta: Universitas Indonesia - Matthews, P.H. 1978. Morphology. Cambridge: Cambridge University Press. - Muslich, Masnur. 2008. Fonologi. Jakarta: Bumi Aksara. - Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1995. Penelitian Kekerabatan dan Pemetaan Bahasa di Indonesia. - Pike, K.L. 1978. Phonemics: A Technique for Reducing Languages to Writing. Canada: The University of Michigan Press - Purwadi, dkk. 2004. Tata Bahasa Jawa. Yogyakarta: Media Abadi. - Roarch, Peter. 1983. English Phonetics and Phonology. Cambridge: Cambridge University Press. - Sudaryanto. 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa, Pengantar Penelitan Wahana Kebudayaan Secara Linguistik. Yogyakarta: Duta Wacana University Press. - Verhaar, J.W.M. 1996. Asas-asas Linguistik Umum. Yogyakarta: UGM Press. - Zamzami. 1993. Pemerian Wujud Reduplikasi Bahasa Indonesia. DIKSI. No 2 Th. I Mei 1993. -http://id.wikipedia.org/wiki/Enklave
ResearchGate has not been able to resolve any citations for this publication. ResearchGate has not been able to resolve any references for this publication.
or Discover by subject area